Monday, October 28, 2019

Growback: Pembeli dan Pedagang Keliling Bertemu Lewat Aplikasi

Dok. KONTAK

Berangkat dari permasalahan antara supply (pedagang) dan demand (konsumen) yang tidak bertemu, tiga mahasiswa dari Universitas MH Thamrin Fakultas Ekonomi, yaitu Fajar, Rico, dan Rosa telah meluncurkan sebuah aplikasi yang menghubungkan antara penjual dengan pembeli. Tidak hanya menawarkan kepada penjual makanan, aplikasi ini juga mengajak pedagang lainnya seperti pedagang baju keliling maupun aksesoris.

Terinspirasi dari kata “gerobak” yang merupakan alat angkut untuk berjualan, ketiga mahasiswa ini memberikan nama pada aplikasi yaitu “Growback”. Agar terkesan elegan, maka di plesetkan ke dalam serapan bahasa inggris yang berarti “kembali tumbuh”. Artinya, ketiga mahasiswa ini ingin menumbuhkan kembali semangat pada pedagang keliling yang mulai tersingkirkan akibat teknologi yang kian berkembang pesat. Berawal dari ide yang gila, aplikasi ini di desain untuk mengajak pedagang keliling dalam penggunaan aplikasi. Kemitraan yang dibangun oleh pihak pedagang dengan pihak aplikasi adalah dengan syarat pedagang harus membawa barang serta memiliki alat angkut baik berbentuk sepeda motor, mobil, gerobak atau bahkan penjual buku keliling agar dapat bergabung untuk menggunakan aplikasi ini. Selain itu, persyaratan yang harus dipenuhi oleh pedagang adalah harus melengkapi beberapa berkas seperti isi formulir serta surat perjanjian.
“Untuk persyaratan pedagang, kami akan buatkan formulir, surat perjanjian kerjasama ditandatangani diatas materai, ada hitam diatas putih, serta perhitungan hukum yang jelas” ungkap Fajar salah satu pencetus aplikasi Growback (26/10).

Rico, Rosa, dan Fajar. / Dok. KONTAK

Tak perlu khawatir, aplikasi ini dapat digunakan oleh pedagang dimanapun berada. Akan tetapi, dalam peluncuran awal aplikasi hanya berada untuk wilayah kecamatan Kramat Jati, begitu menguasai daerah kampus maka akan terus mengembangkan ke seluruh wilayah Jakarta Timur, dan akan terus meluas sampai ke seluruh wilayah di Indonesia. Tak hanya sebagai penyedia aplikasi untuk para pedagang, Growback juga menyediakan fasilitas seperti seragam, gawai, kemasan, maupun tampilan gerobak yang akan dibayarkan kembali dengan melalui cicilan sesuai kemampuan dari pedagang tersebut.

Tak mau kalah dengan aplikasi yang serupa, Growback juga menawarkan fitur e-money dalam proses transaksi. Proses pembayaran non-tunai ini digencarkan agar memudahkan pembayaran bagi pembeli. Selain itu, pihak manajemen dari Growback akan melakukan pelatihan terlebih dahulu terkait dengan penggunaan aplikasi kepada para pedagang. Sejauh ini, sudah ada lima mitra yang telah tergabung dengan aplikasi Growback sebagai pembuktian awal bahwa terdapat penjualan berbasis online yang merangkul pedagang keliling.

Beberapa nilai jual yang ditawarkan oleh Growback untuk merangkul mitra yang sudah berskala nasional adalah kemudahan akses informasi terkait dengan permintaan oleh konsumen yang dibantu dalam pelacakan lokasi demand (konsumen) maupun supply (pedagang) serta rute pilihan kepada pedagang. Untuk mencapai nilai jual tersebut, Growback memiliki beberapa strategi khusus untuk tetap mencoba menjadi aplikasi terbaik yang bermanfaat bagi masyarakat, yaitu dengan menawarkan harga yang lebih kompetitif, promosi terhadap pedagang, gratis ongkir karena pengiriman barang langsung dilakukan oleh pedagang, serta customisasi yang kuat.

Untuk menghindari adanya gap antara pedagang yang menggunakan aplikasi Growback dengan yang tidak, pihak aplikasi akan mengantisipasi hal tersebut. “Belajar tragedi ojek online dan ojek pangkalan, diprediksi akan terjadi di aplikasi kami. Tapi bisa kami antisipasi karena kami juga memberikan handphone kepada pedagang. Namun apabila terjadi tindak kekerasan, maka kami akan bekerja sama dengan aparat penegak hukum” lanjut Fajar. Aplikasi Growback ini dapat diunduh di Google Play Store mulai tanggal 29 Oktober 2019.


(Nanda dan Dafi)

No comments:
Write komentar