Friday, May 04, 2018

MAHASISWA POLTEK APP, SI MENTAL KERDIL YANG BELAGA INTELEKTUAL


dok:google

Nyaman, adalah kata yang paling pas disematkan kepada para mahasiswa Politeknik APP Jakarta saat ini. Betapa tidak, dengan fasilitas ruangan ber-AC, tempat duduk yang cocok untuk jadi tempat tidur, sinyal wi-fi yang tersebar di hampir setiap sudut ruang dan tempat, benar-benar menggambarkan kenyamanan mahasiswanya saat ini. Asal mau diatur dan jangan ikut campur urusan direktur, jaminan kenyamanan sudah pasti diberikan kepada mahasiswanya. Tugasnya sebagai mahasiswa cukup sederhana, hanya mengerjakan tugas, lalu pulang ke rumah masing-masing, meski sesekali, atau kadang berkali-kali ditugasi untuk observasi diluar instansi.


Suatu kenyataaan yang saling bertolak belakang, disaat akreditasi yang dianggap telah meningkatkan kualitas institusi, disisi lain mahasiswanya malah tidak becus dalam mendirikan pemerintahannya sendiri, seolah itu bukan urusan mereka dan yang penting tidak kena remedi. Jika “wajah” sekelas mahasiswa UI dianggap bopeng sebelah oleh Soe Hok Gie, maka begitupun dengan mahasiswa APP, yang nampaknya hanya menjadi robot-robot industri di tengah perannya sebagai seorang intelektuil.

Mereka ini telah lupa atau bahkan tidak tau, tentang idealismenya sebagai seorang mahasiswa yang sebenarnya sudah secara gamblang terdapat dalam Sumpah Mahasiswa Indonesia. Mereka telah kehilangan kedaulatannya sebagai mahasiswa yang berdaulat, atau bisa jadi mereka tidak memiliki kedaulatan. Padahal Negara ini menjamin setiap warganya untuk berdaulat dan mengatur kedaulatannya sendiri.

Mereka menyalahkan para pendahulunya di APP atas ulahnya yang membikin kekacauan dan ketidakpercayaan akademik terhadap mahasiswanya sendiri. Boleh jadi itu merupakan faktor penyebab yang bisa dijadikan alasan, tetapi jika menjadikan hal itu sebagai satu-satunya alasan untuk mereka tidak mau mengurusi pemerintahan mahasiswanya, maka itu adalah kebodohan berkelanjutan.

Melihat kenyataan saat ini, BEM di hampir setiap kampus di Indonesia telah terlihat perubahan haluan dari yang sebelumnya Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi Badan Event Mahasiswa. Bisa dibuktikan dari lebih banyaknya acara-acara hiburan musik ketimbang diskusi dan kajian-kajian tentang cara menumbuhkan jiwa altruistik. Jelas kali hal itu menandakan kemunduran idealisme mahasiswa yang semestinya menjadi penyambung lidah rakyat. Jika dipandang lebih detail, terlihat miris dan menyedihkan, tetapi bandingkan kemirisan dan kepedihan itu dengan sebuah kampus berbentuk Politeknik yang bahkan sampai detik ini masih tidak punya pemerintahan BEM nya sendiri.Mari bergerak, Kamerad, sebab diam adalah pengkhianatan.

- NANA-

No comments:
Write komentar