Thursday, October 27, 2016

APP Bantah Keterlibatan Iuran IKA-APP

Ilustrasi Pungutan Liar
dok / Google

       Surat edaran 037/IKA-APP/VI/ mengenai iuran bagi calon wisudawan/ti Kampus Merah APP 2016 dari Ikatan Alumni Akademi Pimpinan Perusahaan (IKA-APP) masih terpampang di blog resmi Sekretariat Program Studi (Sekprodi) APP sekprodiapp.blogspot.co.id.
        
        Dalam surat tertulis bahwa iuran sebesar Rp 150.000 sebagai dana untuk mendaftar keanggotaan IKA –APP dikaitkan dengan perihal pengambilan toga calon wisudawan/ti. Surat tersebut seolah memaksa calon wisudawan untuk ikut keanggotaan IKA-APP.Padahal IKA-APP dengan Kampus Merah APP adalah instansi yang berbeda. Pihak kampus pun membenarkan demikian, bahwa tidak ada hubungannya iuran keanggotaan IKA-APP dengan pengambilan toga calon wisudawan/ti.
      
     Saya sudah mengklarifikasi saat rapat bersama direktur, bahwa tidak ada keterkaitan iruran dana IKA-APP dengan toga para calon wisudawan,” ujar Arief Budi Ibrahim selaku Ketua Senat Dosen. (26/10)
         
      Pihak akademik menyerahkan keseluruhan teknisnya kepada IKA-APP. “Mereka (IKA-APP) mau mengadakan sosialisasi serta penarikan dana, itu kita serahkan kepada pihak IKA-APPnya karena bahaya jika pihak kampus ikut diterkaitkan,” tambahnya lagi kepada Reporter KONTAK.
          
     Dana yang dikenakan oleh pihak Kampus Merah APP pada calon wisudawan/ti untuk kepentingan wisuda sebesar Rp 1.400.000,- sudah termasuk toga. Oleh karena itu, sudah sangat jelas tidak ada keterkaitan antara pembayaran iuran dana yang diselenggarakan IKA-APP dengan pengambilan toga para calon wisudawan.
          
     Calon wisudawan/ti 2016 yang hendak mengambil toga tidak perlu khawatir akan penarikan dana iuran sebersar Rp 150.000, karena toga dapat diraih diloket yang berbeda dengan penarikan iuran dana keanggotaan IKA-APP.
          
    Salah seorang calon wisudawan dari Program Studi Manajemen Pemasaran pun angkat bicara mengenai penarikan uang tersebut. “IKA-APP tidak sepantasnya meminta uang sebesar itu kepada mahasiswa tingkat akhir, apalagi dengan embel-embel memberikan toga. Sudah jelas toga itu adalah wewenang Akademik.” (26/10).
          
    Peran IKA-APP sudah melesat jauh dari apa yang diharapkan mahasiswa. “Selama tiga tahun kuliah tidak merasakan manfaat adanya IKA-APP,” ujar salah satu calon wisudawan yang enggan disebutkan identitasnya (26/10).
          
     Budi Katria selaku anggota IKA-APP angkatan 1985 pun menyayangkan perbuatan pengurus aktif IKA-APP dalam meminta iuran kepada calon wisudawan. “Kita hanya prihatin, adik – adik yang baru akan wisuda dikenakan biaya. Kerja saja belum,” tuturnya dalam pesan singkat via aplikasi whatsapp (06/10).
         
  Kurangnya sosialisasi dari IKA-APP terkait dengan penarikan iuran pun berujung dengan munculnya persepsi sebuah pemaksaan kepada calon wisudawan. Apabila masalah ini dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya kejelasan, maka ditahun kedepan bisa saja terjadi pengulangan masalah yang sama. Pungutan liar pun akan menjadi penyakit menahun dan akan membuka ladang keuntungan bagi golongan tertentu.
          
   Jika memang benar pihak Kampus tidak terkait dengan pungutan iuran IKA-APP, maka sudah seharusnya pihak Kampus segera mengambil tindakan tegas.  Pihak Kampus dapat mengklarifikasi kebenarannya di blog resmi Sekprodi APP agar permasalahan yang terjadi dapat segera terurai.

     Serta bagi pihak IKA-APP dapat meninjau kembali surat edaran yang telah dikeluarkan agar dapat diterima oleh seluruh pihak Kampus Merah APP.  (Dini Rohmiyati)

No comments:
Write komentar